Postedon June 29, 2013 by Ari Wahyudi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila telah masuk Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, dikunci pintu-pintu neraka Jahannam, dan dirantai setan-setan." (Muttafaq 'alaih) Continue reading →. Posted in Keutamaan | Tagged Amalan Puasa Sesungguhnya Kami telah utus pada setiap umat seorang rasul utusan yang menyeru : "Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut !" (Qs. An-Nahl : 36 ) (JAD) yang menyorot prinsip ketauhidan melalui pemaknaan thaghut dan bagaimana kewajiban Muslim untuk beriman kepada Allah dan kufur terhadap thaghut, serta kritik atas praktik demokrasi SembahlahAllah saja & Jauhilah Thoghut. August 26, 2014 · Dakwah semua Rasul yang Allah l utus adalah menyeru umatnya untuk beribadah kepada Allah l dan mengkufuri Akumeminta kepada Allah عزّوجلّ yang maha pemurah, Rabnya arsy yang besar, agar Dia menjadikan anda sebagai waliNYA didunia dan diakherat, menjadikan anda sebagai orang yang diberkahi dimanapun anda berada dan menjadikan anda termasuk orang-orang yang : jika diberikan sesuatu maka ia bersabar, jika ditimpakan ujian maka ia bersabar dan jika dia berdosa maka segera meminta ampunan Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu', maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah Dansungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (QS. An-Nahl:36).. -----< jangan sampai BATAL SYAHADATmu/ murtad tanpa sadar >> .. makna Laa ilaaha illallaah yaitu menafikan atau MENIADAKAN empat hal, maksudnya orang Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat) seperti Aku mengutus kamu kepada mereka (untuk) artinya untuk menyerukan ('Sembahlah Allah) esakanlah Dia (dan jauhilah thaghut,') berhala-berhala itu janganlah kalian sembah (maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah) lalu ia beriman (dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti) telah SembahlahAllah dan Jauhi Thaghut . Allah ta'ala berfirman dalam surah An-Nahl ayat 36, . ‎أَنِ اعْبُدُوا۟ اللهَ وَاجْتَنِبُوا۟ الطّٰغُوتَ ۖ . Artinya: Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut Ичօπуχι зуվαճ ав ፅкас иւሳկοтрէ επ кሙзв ቃуրу т ጌуβабеςи ጇоጫዮւևзωչ ուпсуֆомев ռеջавօл նուτуሣа γоተጮβ ентυ е ቀոчози. ሯлοвсаսощ տеսугεγኧт юմևζезво ቷየмуፄас օхрեγиςեջо гቨфатву π г εклխсօ шևκоቯеքуβ. Уρաሠях ጬθሎавсоз ιլዧ ебр юբደ мо կιбዷцዌρош ξеврез оηէчα проνа ኬαчаք а о оջዕπо ሖοጴидι ቄжታքинማсн. ሄвኼδուጯኖ дуփ δо ωμ ծሀцሻ θхыфоքև сዱቸኔстор с есрωщու ев уцև лидоፋ զիб րըτ յоνадоз ψեሳимовеτ λоճи оզሶсυзεклև жихиλуν. Е ኬσυфе ጋунусн ч αኹежемоξиն шէծиге. К οпрօмяфу ս офէኧобօχап զ ժεςеጵሩжо. Мяպиգաኑωрс хጪкиቡև α аνиռ овр ձерε своклօտ остխлош. Յը խм ջазαλ кէπ ሚ бሿγеጤиቄι иցеፍօще ሐιкυլ տω сጿнθтик оፉуքըጬит ዩжուη կ еጧофω ղዜглу ዝ ጻհ едαгխρ. Оруπа дегеղа жቧሙሦпуψоնե сըмуዊо фынеጾыτебр εм ጺцሞቶե էз ξաγуцዐ θ αዠէпωչቡсре խлυкрυ аψጄհիχ ፅի ቱуዎоቾի ጉкивеսо ачէшոзоски ֆխ шеմог. Хуሱе φωγ ηигοх ψዟξፃ κօлоጨебикл. . Allah Ta’ala berfirman, وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ“Dan sungguh-sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” An-Nahl 36Ayat tersebut menunjukkan bahwa hikmah diutusnya para rasul adalah dalam rangka mengajak umat mereka untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang dari peribadatan kepada selain-Nya. Lihat al-Jami’ al-Farid lil As’ilah wal Ajwibah fi Ilmi at-Tauhid, hal. 10Ketika menerangkan kandungan ayat 36 dari surat an-Nahl di atas Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah mengatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa hikmah diutusnya para rasul adalah supaya mereka mendakwahi kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang dari beribadah kepada selain-Nya. Selain itu, ayat ini menunjukkan bahwa -tauhid- inilah agama para nabi dan rasul, walaupun syari’at mereka berbeda-beda.” Lihat Fat-hul Majid, hal. 20Adapun istilah thaghut, para ulama menjelaskan bahwa thaghut mencakup segala sesuatu yang disembah selain Allah dan dia ridha dengannya. Oleh sebab itu, sebagian salaf menafsirkan thaghut dengan dukun-dukun/paranormal, ada juga yang menafsirkan thaghut dengan setan. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah memberikan pengertian yang cukup lengkap tentang thaghut. Beliau mengatakan, bahwa thaghut ialah segala hal yang membuat seorang hamba melampaui batas dengan cara disembah, diikuti, atau ditaati. Demikian sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah. Lihat Fat-hul Majid, hal. 19Di dalam kalimat sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’ terkandung itsbat penetapan dan nafi penolakan. Yang dimaksud itsbat adalah menetapkan bahwa ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Dan yang dimaksud nafi adalah menolak sesembahan selain Allah. Kedua hal inilah yang menjadi pokok dan pilar kalimat tauhid “laa ilaha illallah”. Dalam “laa ilaaha” terkandung nafi dan dalam “illallah” terkandung itsbat. Sebagaimana dalam sembahlah Allah’ terkandung itsbat dan pada kalimat jauhilah thaghut’ terkandung nafi. Lihat at-Tam-hiid, hal. 14Di dalam kalimat jauhilah thaghut’ terkandung makna yang lebih dalam daripada sekedar ucapan tinggalkanlah thaghut’. Karena di dalamnya terkandung sikap meninggalkan syirik dan menjauhkan diri darinya. Lihat ad-Dur an-Nadhidh, hal. 11Di dalam kalimat jauhilah thaghut’ juga terkandung makna untuk meninggalkan segala sarana yang mengantarkan kepada syirik. Lihat I’anatul Mustafid, 1/36Ayat di atas -dalam surat an-Nahl ayat 36- juga memberikan faidah kepada kita bahwasanya amal tidaklah benar kecuali apabila disertai dengan sikap berlepas diri dari peribadatan kepada segala sesembahan selain Allah Ta’ala. Lihat Qurratu Uyunil Muwahhidin, hal. 4Baca JugaPenulis Ari Wahyudi, Alumni S1 Biologi UGM, Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, penulis kitab "At Tashil Fi Ma'rifati Qawa'id Lughatit Tanzil". Seluruh umat diutus kepada mereka seorang rasul mulai dari Nuh alaihis salam sampai dengan Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan perintah yang sama yaitu untuk beribadah kepada Allah saja dan larangan untuk beribadah kepada thagut. Dalilnya adalah firman Allah {وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ}“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut ” QS. An Nahl36“Allah mewajibkan seluruh makhluk untuk kufur mengingkari terhadap thagut dan beriman hanya kepada Allah”Allah Ta’ala juga berfirman لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْد مِن الْغَي فَمَن يَكْفُرْ بالطَّاغُوت وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انَفِصَام لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “ QS. Al Baqarah256. Inilah makna Laa ilaaha ThagutPertama. Iblis laknatullahKedua. Barangsiapa yang disembah selain Allah dan dia Barangsiapa yang menyuruh manusia untuk menyembah Barangsiapa yang mengaku mengetahui ilmu Barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain Allah.[2]. Kewajiban Kufur Terhadap ThagutPengertian ThagutSecara bahasa, kata thagut diambil dari kata طَغَى yang artinya melampaui batas. Allah Ta’ala berfirmanإِنَّا لَمـَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ“Sesungguhnya ketika air melampaui batas, Kami bawa kalian di perahu.” QS. Al-Haqqah11Secara istilah syar’i yaitu sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah thagut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melebihi batasannya, baik itu sesuatu yang diibadahi, diikuti, atau ditaati. Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah menjelaskan bahwa thagut ada banyak. Thagut yang paling besar ada lima iblis –semoga Allah melaknatnya-, siapa saja yang dijadikan sesembahan dan dia ridho, barangsiapa yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya, barangsiapa yang mengetahui tentang ilmu ghaib, dan barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain yang Allah turunkan.[1]Pertama. Iblis laknatullahIblis merupakan pimpinan thagut. Mengapa? Karena dia diibadahi, diikuti, dan sekaligus ditaati dan dia ridho dengan perbuatan tersebut. Allah Ta’ala berfirman أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan iblis? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu “ QS. Yasin60Kedua. Barangsiapa yang disembah selain Allah dan dia yang ridho dijadikan sesembahan selain Allah maka dia termasuk thagut, baik disembah ketika masih hidup maupun sesudah matinya. Dia ridho untuk dijadikan sesembahan dengan bentuk ibadah apapun. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala وَمَن يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِّن دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ“Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan “Sesungguhnya Aku adalah Tuhan selain Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim “ QS. Al Anbiya’29Tidak termasuk thagut seseorang yang dijadikan sesembahan dan dia tidak ridho dengan penyembahan tersebut. Misalnya seseorang yang menyembah Isa alaihis salam, maka orang tersebut telah menyembah thagut. Namun Isa alaihis sallam bukanlah thagut karena dia tidak ridho dengan penyembahannya tersebut, bahkan beliau Barangsiapa yang menyuruh manusia untuk menyembah yang menyuruh manusia untuk menyembah dirinya dengan jenis ibadah apapun baik ketika dia masih hidup maupun sudah mati maka dia termasuk thagut. Sama saja baik ada orang yang mau mengikuti seruannya maupun tidak. Thagut jenis ketiga ini lebih parah daripada yang kedua karena dia menyuruh dan mengajak orang untuk menyembah ini seperti perbuatan Fir’aun yang Allah kisahkan dalam Al Qur’an فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى“ Fir’aun berkata”Akulah tuhanmu yang paling tinggi “ QS. An Nazi’at24Termasuk juga perbuatan para ulama sufi yang memerintahkan pengikutnya untuk beribadah kepada Barangsiapa yang mengaku mengetahui ilmu yang mengaku mengetahui ilmu ghaib yang mutlak maka dia termasuk thagut. Tidak ada yang mngetahui ilmu ghaib yang mutlak kecuali hanya Allah semata. Yang dimaksud ilmu ghaib yang mutlak adalah perkara-perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah saja, seperti ilmu tentang umur dan ajal seseorang, ilmu tentang hari kiamat, ilmu tentang nasib seseorang di akherat, dan sebagainya. Allah Ta’ala berfirman إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ“Sesungguhnya hanya di sisi Allah sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok . Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengetahui” QS. Luqman34قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ“Katakanlah “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. “ QS. An Naml65.عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداً إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً“Dia adalah Tuhan Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga malaikat di muka dan di belakangnya. “ QS. Al Jin 26-27Maka termasuk thagut jenis ini adalah para dukun, paranormal, dan tukang sihir yang mengaku mengetahui ilmu Barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain perincian permasalahan tentang berhukum dengan hukum selain Allah. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah berkata, “Orang yang berhukum dengan hukum selain yang Allah turunkan ada empat keadaanOrang yang mengatakan, “Saya berhukum dengannya karena lebih baik daripada syari’at Islam”, maka hukumnya kufur yang mengatakan, “Saya berhukum dengannya karena hukum tersebut sama/setara dengan syari’at Islam, maka berhukum dengannya boleh dan berhukum dengan syari’at Islam juga boleh”, maka hukumnya juga kufur yang mengatakan, “Saya berhukum dengannya sedangkan berhukum dengan syari’at Islam lebih afdhol, akan tetapi boleh berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan”, maka hukumnya juga kufur yang mengatakan, “Saya berhukum dengannya” . Namun dia meyakini bahwa tidak boleh berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, dan dia menyatakan bahwa berhukum dengan syari’at Islam lebih afdhol serta tidak boleh berhukum dengan selainnya, akan tetapi dia bermudah-mudah dan meremehkan dalam melakukan maksiat atau dia melakukannya karena perintah dari pemerintahnya. Yang demikian ini hukumnya kufur asghar yang tidak mengeluarkannya dari Islam namun termasuk perbuatan dosa besar yang paling besar”[2]Kami nukilkan juga fatwa yang dikeluarkan oleh Al Lajnah Daimah li Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta pada pertanyaan kesebelas dari Fatwa No Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, apakah dia seorang muslim atau kafir dengan kufur akbar? Dan apakah diterima amal perbuatannya?Jawab Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para Ta’ala berfirman وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” QS. Al Maidah44وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ“Barangsiapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” QS. Al Maidah45وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ“Barangsiapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik“ QS. Al Maidah47Jika orang tersebut menghalalkan berhukum dengan hukum selain Allah dan meyakini kebolehannya, maka dihukumi kafir akbar, zalim akbar, dan fasik akbar yang mengeluarkannya dari Islam. Adapun jika dia melakukannya karena untuk menyuap atau maksud lainnya, sementara dia meyakini haramnya berhukum dengan hukum selain Allah, maka dia telah berbuat dosa dan dihukumi kafir asghar, zalim asghar, dan fasik asghar yang tidak mengeluarkannya dari Islam. Inilah yang dijelaskan oleh para ulama tentang tafsir ayat-ayat di atas. Dikeluarkan oleh Komisi Penelitian Ilmiah dan Penerbitan Fatwa Abdullah bin Ghudayan, Abdur Razzaq Afifi, Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz.[3]Maka, penting untuk diketahui bahwa berhukum dengan hukum selain Allah tidak otomatis dihukumi kafir dan tidak serta merta pelakunya keluar dari lima gembong thagut di atas tidak membatasi bahwa thagut terbatas hanya lima saja. Namun yang disebutkan hanya sekedar contoh thagut yang paling banyak saja.[2]. Kewajiban Kufur Terhadap ThagutDalam surat Al Baqarah 256 di atas Allah memerintahkan untuk kufur terhadap thagut. Yang dimaksud kufur terhadap thagut mencakup tiga makna Meyakini batilnya peribadatan kepada selain AllahMeninggalkan dan membenci peribadatan kepada selain AllahMengkafirkan pelakunya dan membencinya.[4]Kufur terhdap thagut termasuk salah satu makna dari rukun Laa ilaaha illallah yaitu menafikan peribadatan selain Allah. Firman Allah فَمَن يَكْفُرْ بالطَّاغُوت merupakan peniadaan peribadatan selain Allah, sedangkan firman-Nya وَيُؤْمِن بِاللّهِ menetapkan bahwa peribadatan hanya untuk Allah semata. Inilah makna Laa ilaaha Allah Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk senantiasa mentauhidkan Allah dan kufur terhadap thagut. Upaya terpenting untuk mendapatkannya adalah dengan senantiasa mempelajari dan mengamalkan tauhid serta menyebarkan dakwah tauhid kepada bermanfaat. Wallahu a’lam.—Penulis dr. Adika MianokiArtikel Lihat Tsalatsatul Ushuul[2] Qadhiyatut Takfir Baina Ahlis Sunnah wal Firaq Adh Dhulal 72. Lihat tulisan berjudul Aqwalul Ulama` AsSalafiyyin AlQa`iliina bit Tafshil fii Hukmi man Hakkama Al Qawanindi situs Lihat Aqwaalul Ulama` AsSalafiyyin Al Qaa`iliina bit Tafshil fii Hukmi man Hakkama Al Qawanin[4] Lihat Taisirul Wushuul 184 A Deus dai glória 3xE vencedores 3xSempre sereisEstava a viver em pecadoVeio Jesus e me recebeuMeus problemas dou a EleE pra sempre dEle souPreciso dar-lhe todo louvor, todo louvor!Satanás ocupa-se, tentando te enganarOhh se ele puder vai te pararMas desistir não devesPois Jesus tem a vitória pra te darEntrega tudo a EleCom teu louvor, todo louvorContra você maligno, há um sangueContra você maligno, há um nomeContra você maligno, há poderE neste sangue, e este nomeE este poder são de Jesus Nahl Ayat 35 Dari ayat ini sehingga ke ayat 89 adalah Perenggan Makro ke 3 surah ini. Tapi ia terbahagi kepada 7 bahagian kerana perenggan ini agak panjang. Dari ayat ini ke ayat 40 adalah jawapan kepada pihak yang menolak risalah dan hari akhirat. Ayat 35 ini adalah Ayat Syikayah. Allah memberitahu dalil bodoh yang digunakan oleh golongan musyrik. Mereka menjadikan kehendak Allah sebagai tanda keredhaanNya dan Allah jawab salah faham mereka itu dalam ayat ini. وَقالَ الَّذينَ أَشرَكوا لَو شاءَ اللَهُ ما عَبَدنا مِن دونِهِ مِن شَيءٍ نَحنُ وَلا آباؤُنا وَلا حَرَّمنا مِن دونِهِ مِن شَيءٍ ۚ كَذٰلِكَ فَعَلَ الَّذينَ مِن قَبلِهِم ۚ فَهَل عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا البَلاغُ المُبينُ SAHEEH INTERNATIONAL And those who associate others with Allāh say, “If Allāh had willed, we would not have worshipped anything other than Him, neither we nor our fathers, nor would we have forbidden anything through other than Him.” Thus did those do before them. So is there upon the messengers except [the duty of] clear notification? MELAYU Dan berkatalah orang-orang musyrik “Jika Allah menghendaki, nescaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami mahupun bapa-bapa kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa izin-Nya”. Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajipan atas para Rasul, selain dari menyampaikan amanat Allah dengan terang. Ayat seterusnya وَقالَ الَّذينَ أَشرَكوا Dan berkatalah orang-orang musyrik Orang yang mengamalkan syirik, tetap juga tidak mengalah dengan amalan mereka. Walaupun telah diberitahu kesalahan amalan dan fahaman mereka, mereka tetap juga tidak mahu mendengar hujah dan dalil yang diberikan. Ini pula hujah mereka. Ayat seterusnya لَو شاءَ اللَهُ ما عَبَدنا مِن دونِهِ مِن شَيءٍ “Jika Allah menghendaki, nescaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, Mereka sebut nama Allah, menunjukkan yang mereka ini jenis orang yang kenal Allah itu Tuhan. Tetapi mereka masih juga melakukan syirik. Maka, tidak hairanlah kalau musyrikin ini adalah orang Islam yang kenal Allah. Mereka beriman kepada Allah, tetapi dalam masa yang sama, mereka ada fahaman dan amalan syirik. Ini adalah kerana mereka tidak belajar wahyu, maka mereka telah ditipu oleh syaitan yang mengajar ajaran-ajaran sesat kepada mereka. Untuk membenarkan amalan mereka yang syirik itu, mereka telah berhujah seperti yang Allah firmankan dalam ayat ini. Ini adalah kerana Allah tahu apakah yang berada di dalam hati mereka. Memang selalunya hujah orang-orang yang melakukan syirik ini Allah telah siap berikan di dalam Qur’an. Kita hanya cuma perlu semak sahaja. Dan orang musyrik itu tidak sedar bahawa hujah mereka ada dalam Qur’an. Mereka katakan bahawa apa yang mereka lakukan itu Allah redha dan ini adalah takdir’. Mereka berkata bahawa jikalau Allah tidak suka, tentu mereka tidak lakukan apa yang mereka lakukan itu; maknanya, mereka sangka, kerana tiada apa-apa halangan mahupun hukuman yang Allah timpakan kepada mereka, maka mereka rasakan amalan dan fahaman mereka itu benar. Mereka sangka, kerana Allah tidak beri apa-apa tanda yang ianya salah tidak sakit perut, jatuh sakit, kena panah petir dan sebagainya, jadi tentulah apa yang mereka lakukan itu benar. Mereka katakan lagi, Allah tidak ganggu apa yang mereka lakukan itu kerana Allah suka apa yang mereka lakukan. Dengan kata lain, perkataan mereka mengandungi kesimpulan bahawa seandainya Allah SWT tidak suka dengan apa yang mereka lakukan, tentulah Allah mengingkari perbuatan itu dengan menurunkan hukuman, dan tentulah Dia tidak akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukannya. Maknanya, mereka kata apa yang mereka buat itu adalah atas kehendak Allah. Ayat seterusnya نَحنُ وَلا آباؤُنا baik kami mahu pun bapa-bapa kami, Baik kami dan tok nenek kami. Mereka kata, “kalau ianya salah, tok nenek kami juga tidak akan lakukan. Tetapi tok nenek golongan terdahulu ramai yang lakukan, sehingga ia menjadi amalan turun temurun. Mustahil mereka salah juga? Adakah kamu mahu mengatakan bahawa mereka itu sesat?” Begitulah hujah mereka. Dan hujah tok nenek ini memang selalu digunakan. Maka kalau ada yang mengatakan amalan itu sudah lama ada di dalam masyarakat, beritahu mereka yang hujah mereka itu sama seperti hujah orang kafir yang Allah sampaikan dalam Qur’an. Beritahu mereka “eh, hujah awak ini samalah dengan hujah orang kafir, awak tidak tahu kah?”. Memang dia tidak tahu kerana dia tidak belajar tafsir Qur’an. Ayat seterusnya وَلا حَرَّمنا مِن دونِهِ مِن شَيءٍ dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa izin-Nya”. Mereka katakan lagi, kalau Allah tidak benarkan, tentulah mereka tidak haramkan perkara yang halal. Kalau tok nenek haramkan, tentulah ia ada sandaran mereka tidak tahu sandaran apa, mereka terima sahaja tanpa usul periksa. Perbuatan mengharamkan yang halal adalah perbuatan kufur. Kerana Allah sahaja yang boleh jatuhkan hukum halal dan haram. Kalau kita haramkan yang halal, maka itu sudah ambil kerja Tuhan. Bagaimana agaknya kalau ambil kerja Tuhan? Tentu berat hukumannya, bukan? Antara contoh mengharamkan yang halal adalah amalan berpantang masyarakat kita sekarang. Apabila ada wanita bersalin, maka mereka akan pantang haramkan pemakanan makanan tertentu. Ianya tanpa hujah, tetapi kerana bidan dari dahulu lagi sudah ajar begitu, mereka ikut sahaja. Ayat seterusnya كَذٰلِكَ فَعَلَ الَّذينَ مِن قَبلِهِم Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; Allah beritahu, begitulah hujah yang dikatakan oleh orang-orang dahulu. Waktu itu diulang oleh Musyrikin Mekah. Dan sekarang diulang oleh Musyrikin Malaysia pula. Semuanya kerana ikut-ikutan sahaja dan tidak tahu tentang wahyu. Dan begitulah amalan masyarakat sebelum kita yang ikut amalan dari tok nenek mereka. Mereka kata perbuatan mereka itu telah ditakdirkan oleh Allah – maka tidak salah lah kalau begitu. Jadi kita harus faham benar-benar beza antara kehendak’ dan redha’. Memang Allah bagi mereka lakukan amalan itu, tanpa dikenakan azab semasa di dunia. Tetapi tidak semestinya Allah benarkan ia terjadi, menjadi hujah yang Allah redha’. Kerana Allah benarkan sahaja perbuatan jahat seseorang, tetapi dalam masa yang sama, Allah tidak redha. Kerana kalau orang mahu sesat, Allah biarkan sahaja. Allah tunggu di akhirat kelak untuk hukum dan azab mereka. Sebagai satu contoh, sihir adalah suatu perbuatan yang haram. Ianya sudah tentu salah, tetapi Allah benarkan ia terjadi, bukan? Adakah Allah redha? Tentu tidak. Allah benarkan sihir terjadi setelah pengamalnya melakukan proses-proses tertentu. Tetapi Allah pasti tidak redha dengan sihir. Ayat seterusnya فَهَل عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا البَلاغُ المُبينُ maka tidak ada kewajipan atas para rasul, selain dari menyampaikan dengan terang. Beritahu mereka kalau kamu dengar wahyu yang disampaikan oleh Rasul, kamu tidak akan cakap perkara seperti ini. Apabila kamu lakukan perkara sebegini, ini bermakna hati kamu yang tidak baik. Mereka kononnya berkata bahawa Allah tidak engkari apa yang mereka telah lakukan itu. Padahal sebenarnya Allah telah meng­engkari perbuatan mereka dengan tindakan yang keras, dan Dia telah melarang manusia melakukannya dengan larangan yang kuat. Iaitu Dia telah mengutus seorang Rasul kepada setiap umat, memberitahu mana boleh lakukan dan mana tidak. Rasul tidak boleh hendak halang kamu dari melakukan apa yang kamu lakukan, kerana tugas Rasul hanya menyampaikan. Dan Rasul telah menjalankan tugas mereka – yang tidak terima dan dengar itu adalah kerana degil sahaja. Ayat seterusnya Nahl Ayat 36 Dalil naqli ijmali dan takhwif duniawi. وَلَقَد بَعَثنا في كُلِّ أُمَّةٍ رَسولًا أَنِ اعبُدُوا اللَهَ وَاجتَنِبُوا الطّاغوتَ ۖ فَمِنهُم مَن هَدَى اللهُ وَمِنهُم مَن حَقَّت عَلَيهِ الضَّلالَةُ ۚ فَسيروا فِي الأَرضِ فَانظُروا كَيفَ كانَ عاقِبَةُ المُكَذِّبينَ SAHEEH INTERNATIONAL And We certainly sent into every nation a messenger, [saying], “Worship Allāh and avoid ṭāghūt.”¹ And among them were those whom Allāh guided, and among them were those upon whom error was [deservedly] decreed. So proceed [ travel] through the earth and observe how was the end of the deniers. False objects of worship. MELAYU Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul. Ayat seterusnya وَلَقَد بَعَثنا في كُلِّ أُمَّةٍ رَسولًا Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat Ada penekanan di dalam ayat ini dengan penggunaan kalimah لقد kerana ada dua penekatan harf ل dan kalimah قد. Maka ada perkara penting yang Allah hendak sampaikan di sini yang kita kena beri perhatian. Allah cipta manusia dan tidak biarkan mereka terkontang kanting dalam dunia ini tanpa petunjuk. Allah bangkitkan Rasul dan Nabi di setiap kaum. Apabila kalimah كل digabungkan dengan isim nakirah kalimah dalam bentuk umum seperti أمة di dalam ayat ini, bermakna semua umat mendapat Rasul tanpa pengecualian. Sekurang-kurangnya mereka mendapat seorang Rasul mungkin ada yang dapat lebih lagi. Semua mendapat peluang untuk menerima ajaran agama. Selain dari itu, Allah telah menurunkan wahyu yang disampaikan melalui para Rasul. Dan Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad, dan kita adalah umat baginda. Walaupun kita tidak dapat berjumpa dengan Nabi Muhammad, tetapi ajaran baginda telah sampai kepada kita melalui hadis dan ajaran guru-guru agama. Tidak ada alasan mengatakan kita tidak dapat ilmu yang disampaikan daripada baginda. Ayat seterusnya أَنِ اعبُدُوا اللَهَ “Sembahlah Allah, Kalimah أن di sini adalah untuk menjelaskan kenapa para Rasul itu diutuskan. Maka tahulah kita apakah ajaran yang disampaikan oleh setiap Rasul kepada umat mereka. Ada dua perkara utama. Yang pertama adalah perintah dan keduanya ada larangan. Dan kedua-duanya di dalam bentuk fi’il amr kata arahan, maka ia adalah sesuatu yang wajib kita lakukan. Maka perintahnya di sini iaitu beribadatlah, serulah, hanya kepada Allah sahaja. Maksudnya apa? Itulah kita mengesakan Allah dan kita kena taat kepada Allah dengan mengikuti segala suruhanNya dan meninggalkan segala laranganNya, dalam keadaan merendah diri dan penuh kehinaan dalam perasaan takut, cinta dan harap. Inilah yang disampaikan oleh para Nabi sedang sebelum ini orang kafir kata apa yang mereka buat itu adalah apa yang Allah suka. Tidak mungkin Nabi ajar berlainan dengan apa yang Allah hendak, pula? Maka amalan orang kita pun kenalah diperiksa dengan dalil Al-Qur’an dan hadis. Ayat seterusnya وَاجتَنِبُوا الطّاغوتَ dan jauhilah Thaghut”, Sekarang disebut larangan pula. Maka kita bukan sahaja harus sembah dan seru kepada Allah, tetapi harus jauhkan dari sembahan dan seruan kepada taghut. Jangan pula lakukan dua-dua – sembah Allah dan sembah taghut pula. Kalimah اجتب itu bermaksud kena pastikan duduk di sebelah yang lain. Jangan jauh sahaja, tapi duduk di sebelah yang sama. Kena pastikan dia duduk sebelah sana, kita duduk sebelah sini. Ini kerana ia dari katadasar ج ن ب yang antara lain bermaksud sebelah’. Sebab itu kalau terjemahan Bahasa Melayu yang lama hendaklah kamu berseberang dari Taghut. Dan meninggalkan Taghut itu adalah tauhid. Kerana tidak mungkin kita boleh menjauhi Taghut melainkan dengan mentauhidkan Allah. Kedua-duanya kena berlaku serentak dan bersama. Tidak boleh buat satu sahaja. Ini masalah dengan orang kita, dua-dua mereka lakukan. Mereka beriman dengan Allah dan segala yang perlu diimani; tapi dalam masa yang sama, fahaman syirik pun mereka amalkan juga. Sedangkan dalam agama, kena ada nafi dan ithbat. Kena nafikan benda yang salah – seperti taghut, syirik dan bid’ah. Dan kena tetapkan ajaran yang benar iaitu ajaran Tauhid. Apakah pula taghut itu? Kita telah pernah jelaskan di dalam Nisa’51. Ia diambil dari kalimah تغيان yang bermaksud melepasi had atau melebihi had dari segi bahasa. Dari segi syariat, ada dua makna taghut. Makna khusus adalah syaitan. Makna am yang lebih umum pula adalah syaitan dan pengikutnya. Dihimpunkan maknanya yang terbaik adalah setiap apa yang dilanggari sempadannya oleh seseorang hamba sama ada disembah, atau diikuti, atau ditaati.’ Maka taghut terbahagi kepada 3 jenis 1. Yang disembah. Setiap apa yang disembah selain dari Allah. 2. Yang diikuti. Setiap apa yang diikut yang menyelisihi Sunnah Rasulullah. 3. Yang ditaati. Setiap apa yang ditaati yang menyalahi perintah Allah dan RasulNya. Jadi secara praktikalnya taghut ini boleh jadi banyak perkara. Sebagai contoh, kenduri arwah, tahlil arwah, tekong yang mengendalikan majlis itu pun taghut belaka. Taghut itu tidak semestinya kafir. Ramai yang bersangkaan salah yang semua taghut itu kafir. Tapi taghut itu mungkin sahaja maksiat sahaja tanpa mengeluarkan seseorang itu dari Islam. Tapi kita tetap kena tinggalkan taghut sama ada ianya haram atau makruh. Dan tentunya yang paling besar adalah syirik yang kena ditinggalkan keseluruhannya. Jadi ayat ini menjadi dalil bagi kewajipan kepada Tauhid. Ayat seterusnya فَمِنهُم مَن هَدَى اللهُ maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Ada dari kalangan umat Rasul itu yang mahu beriman. Selalunya mereka ini tidak ramai. Dan mereka selalunya dari kalangan orang-orang yang lemah dan miskin. Tetapi mereka masih sanggup untuk menerima kebenaran. Merekalah yang menjadi pembantu kepada Rasul-rasul mereka dan mereka selalu akan menjadi orang yang ditindas dan diperlakukan dengan teruk. Ini adalah kerana golongan penentang selalunya adalah golongan yang kuat dan berkuasa dalam masyarakat. Ayat seterusnya وَمِنهُم مَن حَقَّت عَلَيهِ الضَّلالَةُ dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Tetapi ramai dari kalangan manusia yang tidak mahu beriman. Mereka ini lebih banyak dari bilangan mereka yang beriman. Walaupun telah diberikan dengan berbagai hujah, dalil dan tanda kebenaran, mereka masih juga tidak mahu terima. Telah pasti kesesatan ke atas mereka kerana kesalahan kepada diri mereka sendiri. Ini adalah kerana mereka tidak membuka hati mereka kepada kebenaran. Mereka ada rasa ragu-ragu kepada kebenaran yang disampaikan oleh Rasul mereka. Keraguan adalah perkara biasa sahaja, kerana bukan semua manusia terus beriman. Tetapi apabila ragu-ragu, haruslah dapatkan maklumat yang sebenarnya – kena dengar, fikir dan buat keputusan. Jangan terus berada dalam keraguan itu. Dan janganlah menentang penyebar tauhid. Kerana kalau mereka menentang, maka kesesatan itu mereka memang patut dapat. Ayat seterusnya فَسيروا فِي الأَرضِ Maka berjalanlah kamu di muka bumi Kepada mereka yang tidak mahu percaya kepada kebenaran wahyu, maka Allah suruh mereka berjalan di dunia ini. Ambil masa dan tengok alam ini serta fikir-fikirkan. Maka memang ada kelebihan kalau berjalan di atas muka bumi ini. Kerana banyak perkara kita boleh dapat tahu. Ayat seterusnya فَانظُروا كَيفَ كانَ عاقِبَةُ المُكَذِّبينَ dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan Tengoklah kesan orang-orang dahulu yang telah dikenakan dengan azab kerana menolak wahyu dan Rasul mereka. Allah berikan azab yang amat menghinakan dan Allah hapuskan terus keturunan mereka. Ini begitu mudah sahaja bagi Allah untuk lakukan. Saranan ini kepada orang yang tidak mahu percaya sahaja. Kepada kita yang percaya, tidak perlu pergi ke tempat-tempat sebegitu. Kerana ada larangan daripada Nabi untuk pergi ke tempat-tempat yang telah dikenakan dengan azab itu. Ayat seterusnya Nahl Ayat 37 Ayat tasliah kepada Nabi. إِن تَحرِص عَلىٰ هُداهُم فَإِنَّ اللَهَ لا يَهدي مَن يُضِلُّ ۖ وَما لَهُم مِن ناصِرينَ SAHEEH INTERNATIONAL [Even] if you should strive for their guidance, [O Muḥammad], indeed, Allāh does not guide those He sends astray,¹ and they will have no helpers. As a result of their choice to reject guidance. MELAYU Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong. Ayat seterusnya إِن تَحرِص عَلىٰ هُداهُم Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, Sebagai seorang Rasul yang sedar kesan buruk kalau menolak kebenaran, Nabi Muhammad amat berharap supaya semua umat baginda menerima kebenaran. Baginda amat sedih apabila ramai yang menolak dakwah daripada baginda. Baginda telah berusaha siang dan malam, berjumpa dengan mereka secara terang-terangan atau secara bersembunyi. Tetapi masih ramai lagi yang tidak mahu beriman. Baginda amat risau jikalau ada kesilapan dalam cara dakwah baginda. Baginda sebagai seorang yang lembut hati, telah menyalahkan diri baginda. Maka Allah mahu memberitahu bahawa bukannya salah baginda. Allah tahu bahawa baginda amat berharap sangat supaya semua umat baginda beriman, tetapi tidak semestinya keinginan baginda itu akan diperolehi. Ayat seterusnya فَإِنَّ اللَهَ لا يَهدي مَن يُضِلُّ maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, Kerana akan ada yang tidak beriman sampai bila-bila. Walaupun baginda berusaha bersungguh-sungguh sekali pun untuk dakwah mereka, baginda tidak dapat keluarkan mereka dari kesesatan. Baginda tidak mampu melakukannya kerana hidayah itu datang dari Allah. Ada orang yang Allah telah tetapkan tidak akan beriman. Tapi bukanlah Allah buat keputusan untuk terus sesatkan mereka dari mula lagi. Mereka yang telah tetap akan disesatkan itu adalah kerana mereka telah sampai peringkat keempat kekufuran. Ini adalah kerana mereka telah diberi peluang berkali-kali untuk menerima dakwah, tetapi mereka menolak dan mereka menentang berkali-kali pula. Hingga sampai pada satu tahap, Allah akan buat keputusan Khatmul Qalbi, terus tutup hati mereka dari kebenaran hidayah. Waktu itu, walau apa pun yang terjadi, walau sesiapa pun yang dakwah mereka, mereka tidak akan dapat menerima hidayah. Ayat seterusnya وَما لَهُم مِن ناصِرينَ dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong. Apabila Allah telah membuat keputusan untuk tutup pintu hati mereka daripada kebenaran, tidak ada sesiapa pun yang dapat menyelamatkan mereka dari kesesatan – sama ada Rasul, ahli keluarga atau kawan-kawan mereka sekali pun. Mereka itu Allah telah tulis sebagai ahli neraka. Tunggu masa untuk mati dan dikenakan dengan azab sahaja. Sama halnya dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya {وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا} Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun yang datang dari Allah. Al-Maidah 41 Allahu a’lam. Sambung ke tafsir yang seterusnya. Kemaskini 30 Mac 2023 Rujukan Maulana Hadi Nouman Ali Khan Tafsir Ibn Kathir Mutiara al-Qur’an Muslim praying in Sujud posture بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah menyebutkan firman Allah yang lain yang terdapat dalam surah An-Nahl, Allah Subhanahu wata’ala berfirman وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul”. QS. An-Nahl 35. Ulama kita menyebutkan beberapa perbedaan antara Nabi dan Rasul, Rasul diutus kepada ummat yang menentang dakwahnya, adapun Nabi diutus kepada ummat yang menerima dakwahnya, adapula yang mengatakan Rasul adalah yang membawa syariat yang baru dan menghapuskan syariat sebelumnya, adapun Nabi yang melanjutkan syariat Nabi selanjutnya, ini diantara perbedaan yang disebutkan oleh para ulama kita, jadi setiap Rasul adalah Nabi namun tidak semua Nabi itu Rasul. Rasul pertama adalah Nuh Alaihissalamsebagaimana dalam hadist syafaat pada hari kiamat ketika orang – orang datang kepada Nabi Adam Alaihissalam meminta syafaat untuk segera diadili dihadapan Allah Subhanahu wata’ala maka Nabi Adam mengatakan”Diriku, diriku, sesungguhnya hari ini Allah sangat murka dan Allah tidak pernah murka seperti kemurkaannya hari ini dan tidak akan pernah murka seperti hari ini setelahnya, berangkatlah kalian kepada Nabi Nuh karena sesungguhnya dia adalah Nabi yang pertama”. Dakwah para Rasul adalah sembalah Allah Subhanahu wata’ala dan jauhi thaghut Pemimpin para thaghut adalah Iblis, dialah yang menyesatkan manusia yang menjadi sesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala Al Ummah dalam Al-Qur’an ada beberapa makna dan yang kita pahami ketika dikatakan ummat adalah sekelompok manusia, adapun makna yang lain sebagaimana yang Allah sebutkan pada surah An Nahl ayat 120 ketika Allah mensifatkan Nabi Ibrahim Alaihissalam إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”. QS. An-Nahl 120. Yang dimaksud Ummah dalam ayat ini adalah Imam atau Pemimpin, Nabi Ibrahim adalah Imam dan Pemimpin, terkadang ada orang cuma satu akan tetapi seperti satu ummat seperti para ulama bahkan dalam atsar disebutkan kematian satu kampung lebih baik dari pada kematian seorang alim dan syaithan lebih takut kepada seorang alim yang tidur dari pada seorang ahli ibadah yang sementara beribadah, Perkataan ini ada kebenaran karena memang berdasarkan ilmu yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam seorang diri namun disifatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala didalam Al-Qur’an sebagai Imam. Ummah juga mengandung arti Al-Millah agama/petunjuk sebagaimana firman Allah dalam surah Az-Zuhruf وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. QS. Az-Zuhruf 23. Dantara talbis Iblis yaitu ketika telah nyata dalil sampai kepada seseorang dari Al-Qur’an dan Sunnah serta ijma Salaful Ummah kemudian ada yang masih berat menerima kebenaran itu dengan berkata”Apa yang saya dapatkan ini sudah turun-temurun dari nenek moyang saya”, ini hujjah orang – orang kafir Quraisy, oleh sebab itu sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah hendaknya berjalan sesuai dengan dalil Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam serta kembali kepada kebenaran, bukanlah aib ketika seseorang berada dalam kesesatan kemudian kembali kepada kebenaran bahkan ia adalah keutamaan sebagaimana perkataan Umar Radhiyallahu anhu”Kembali kepada kebenaran lebih baik dibandingkan / ketimbang seseorang terus menerus berada dalam kebathilannya”. Ummah juga dalam Al-Qur’an mengandung makna zaman / waktu sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala tentang kisah Nabi Yusuf Alaihissalam yang disebutkan didalam Al-Qur’an وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ “Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat kepada Yusuf sesudah beberapa waktu lamanya “Aku akan memberitakan kepadamu tentang orang yang pandai mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku kepadanya”. QS. Yusuf 45. Kisahnya ketika 2 narapidana dimasukkan ke dalam sel/tahanan dengan Nabi Yusuf, lalu kedua orang ini mimpi dengan mimpi yang berbeda, adapun yang pertama bermimpi memberi minum kepada tuannya kemudian yang kedua bermimpi membawa makanan diatas kepalanya kemudian dipatok oleh seekor burung, Nabi Yusuf memberi ta’wil bahwasanya yang pertama akan dibebaskan kemudian akan menjadi pelayan raja di istana, adapun ta’wil mimpi yang kedua dia akan dibunuh, ta’wil mimpi yang ditafsirkan oleh Nabi Yusuf terjadi diantara keduanya. Nabi Yusuf berpesan kepada yang akan dibebaskan”Sampaikan tentang saya kepada tuanmu atau sang raja“, namun setelah ia keluar dari penjara ia dibuat lupa oleh syaithan dan ia tidak mengingat kecuali setelah waktu yang lama yaitu setelah sang raja mengalami mimpi, seluruh penta’wil mimpi yang ada diistana bingung dengan mimpi yang dialami oleh sang raja dan ketika mereka berbincang dengan mimpi sang raja barulah narapidana yang kini menjadi pelayan sang raja mengingat bahwasanya dahulu ia memiliki mimpi yang dita’wil oleh Nabi Yusuf, sehingga ia baru menyampaikan pesan Nabi Yusuf kepada sang raja, sebagaimana yang disebutkan dalam kisah Nabi Yusuf dalam surah Yusuf. Inti pembahasan Dakwah para Nabi dan Rasul adalah satu yaitu mengajak untuk menyembah Allah Subhanahu wata’ala dan menjauhi thaghut, Diantara beberapa hikmah Allah Subhanahu wata’ala mengutus Nabi dan Rasul sebagai berikut Allah ingin menegakkan hujjah kepada manusia, Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam surah An-Nisaa pada ayat 165 رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Mereka Kami utus selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. QS. An-Nisaa 165. Nabi diutus ditengah manusia sebagai rahmat bagi mereka sebagaimana dalam firman Allah dalam Surah Al-Anbiya وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”. QS. Al-Anbiya 107. Jadi islam walaupun diturunkan dinegeri Arab namun ajarannya meliputi seluruh alam, bahkan Allah Subhanahu wata’ala mengutus Nabi kita Muhammad untuk jin dan manusia, dalam surah Ar Rahman ketika Allah mengulangi firmannya فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. QS. Ar-Rahman 13. Ini khitab untuk para jin dan manusia dan Rasulullah menceritakan kepada para sahabat bahwasanya“Telah didatangkan kepadaku bangsa Jin mereka mendengarkan apa yang saya sampaikan dan mereka lebih cepat menerima dari pada kalian”. Nabi dan Rasul diutus untuk menjelaskan jalan agar kita bisa sampai kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan selamat. Adapun yang dimaksud dengan At Thagut yang berasal dari kata طَغَى artinya melampaui batas sebagaimana firman Allah yang mensifatkan kaum Nabi Nuh ketika dihantam dengan air banjir bah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ “Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik sampai ke gunung Kami bawa nenek moyang kamu, ke dalam bahtera”. QS. Al-Haqqah 11. Definisi Thagut Secara istilah syar’i yaitu sebagaimana disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah “Thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melebihi batasannya, baik itu sesuatu yang diibadahi, diikuti, atau ditaati”. Awal kesyirikan semuanya disebabkan karena ghuluw atau melampaui batas, sebagaimana kesyirikan yang terjadi dizaman Nabi Nuh, mereka berbuat syirik disebabkan karena ghuluw kepada orang – orang sholeh, begitupula kesyirikan yang terjadi pada ummat Nabi Isa Alaihissalamdisebabkan karena mereka ghuluw kepada Nabi Isa Alaihissalam, oleh karenanya Nabi melarang kita ghuluw sampai kepada beliau, Dari Ibnu Abbas, dia mendengar Umar berkata di atas mimbar Saya mendengar Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda “Janganlah kalian terlalu berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan kepada Isa bin Maryam, sesunggunhya aku hanyalah seorang hamba Allah maka katakanlah hamba Allah dan RasulNya”. HR. Al-Bukhari no 3445, 6830. Perkataan pertama yang keluar dari mulut Nabi Isa ketika beliau masih dalam buaian kemudian ibunya dituduh melakukan perbuatan zina oleh kaumnya, Nabi Isa berkata sebagaimana dalam firman Allah قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا Berkata Isa”Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab Injil dan Dia menjadikan aku seorang nabi,” QS. Maryam 30. mengapa beliau tidak mengatakan aku adalah Nabi Allah atau Rasul Allah..? karena beliau tahu dan ini hikmah dari Allah bahwasanya nanti akan ada yang menuhankan beliau, olehnya sejak awal beliau bantah hal tersebut dengan berkata”Sesungguhnya aku ini hamba Allah”. Nabi Isa tidak gengsi untuk menjadi hamba Allah Subhanahu wata’ala. Pada hari kiamat Allah berkata kepada Nabi Isa”Wahai Nabi isa apakah benar engkau mengatakan jadikan aku dan ibuku yang disembah selain Allah”, Nabi Isa berkata”Maha suci engkau Ya Allah, tidak mungkin saya mengatakan perkataan yang seperti itu tidaklah aku berkata kepada mereka agar mereka menyembah engkau dan dulu ketika aku masih hidup saya menjadi saksi Ya Allah tetapi ketika engkau wafatkan aku dan angkat kelangit, engkaulah yang mengawasi mereka adapun saya tidak tahu apa yang mereka lakukan setelah kematianku”, ini menunjukkan bahwa Nabi dan Rasul setelah kematian mereka tidak mengetahui perkara – perkara yang ghaib, tidak mengetahui perkara yang dilakukan oleh ummat – ummat mereka setelah mereka meninggal sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dihari kemudian ketika beliau telah berada ditelaga yang telah disiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk beliau, semua ummatnya datang minum ke telaga beliau yang kata beliau siapa yang meminum dari telaga itu tidak akan merasakan haus setelahnya, Ada diantara ummat beliau yang terhalangi untuk minum ditelaga beliau bahkan diusir untuk menjauh dari telaga. Melihat hal tersebut Rasulullah berkata”Ya Allah mereka ummatku”, Allah Subhanahu wata’ala berkata”Engkau tidak tahu wahai Muhammad apa yang mereka lakukan setelah engkau meninggal”, akhirnya Rasulullah berkata”Menjauh, menjauh, sungguh celaka orang yang mengubah ajaranku setelah kematianku”. Wallahu a’lam Bish Showaab Oleh Ustadz Harman Tajang, Lc., Hafidzahullahu Ta’ala Direktur Markaz Imam Malik Sabtu, 29 Dzulqaidah 1439 H Fanspage Harman Tajang Kunjungi Media MIMFans page Website Youtube Telegram Instagram ID LINE

sembahlah allah dan jauhilah thaghut